,
Papua, SuaraJournalist-KPK | Menjelang 18 Tahun Otsus diberlakukan di Provinsi Papua, tidak efesien untuk mengatasi atau mengurangi berbagai...
Jakarta, Suara Journalist KPK - Sesuai prosedur sebelum dilakukan jual beli tanah PPAT menerangkan langkah - langkah dan persyaratan yang diperlukan...
Jakarta, SuaraJournalist KPK | Visi, Misi, Program Nawacita Presiden  Joko Widodo dan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2015 Tentang...
Jakarta-Korupsi di Indonesia dewasa ini sudah merupakan patologi sosial (penyakit sosial) yang sangat berbahaya yang mengancam semua aspek kehidupan...
Jakarta, SuaraJournalist-KPK.ID | Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan bukti-bukti baru dalam kasus dugaan suap Dana Otonomi Khusus Aceh...
Jakarta, SuaraJournalist-KPK.ID | Calon Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),...
01 Desember 2018 | Dibaca: 66 Kali
Darwin : OA Bisa Melahirkan Tapi Tidak Bisa Membuat Solid


Pergerakan Organisasi Advokat (OA) yang semakin hari trus bertambah menandakan kemajuan Advokat pada suatu profesi yang majemuk, pergerakan ini menjadi dinamis seiring di terbitkan nya sema 73 oleh mahkamah agung RI  sebelum paska lahir nya UU Organisasi Advokat, dimana terdapat 8 OA yang mempunyai kendali di bawah naungan Peradi saat itu.

Andi Darwin Ranreng, Praktisi dan Konsultan Hukum menerangkan, kini perkembangan OA berlomba-lomba merekut anggota dengan cara internal, mereka mengemas penataan lewat pendidikan PKPA, alhasil banyak sudah advokat-advokat dilahirkan dari OA baru tersebut, peserta nya pun banyak dari kalangan pensiunan Polri, Jaksa, Hakim dan lain sebagainya.

"Baginya yang penting sudah sah mendapatkan predikat advokat, hal ini tidak bisa di pungkiri karna kedinamisan itu tadi di zaman millenial ini begitu pesat nya," ujar Darwin kepada media, di Jakarta, Sabtu (1/12/2018)

Dijelaskan, perkembangan zaman pada saat ini memang dibutuhkan juga tenaga-tenaga profesional di bidang hukum tak terkecuali advokat, mengingat negara kita negara kepulauan yang mana sangat di butuhkan personal yang handal di dalam penegakan hukum bagi mereka yang membutuhkan dalam pencari keadilan.

"Akan tetapi hal ini pun harus di barengi dan di buat aturan yang baku guna menata OA yang ada sekarang. Timbul pertanyaan, bagaimana hal ini bisa dilakukan? Bergerak kearah mana? Apa tujuan nya? Hal ini yang perlu dipikirkan oleh para Founder, para pengurus OA yang selalu giat secara maksimal  menggalang peserta untuk ikut dan tergabung di Gerbong OA nya," ungkap Darwin.

Semakin banyak anggota semakin kuat, tanpa mengedepankan standarisasi yang alhasil pencapaian target memenuhi apa yang menjadi pergerakan OA tersebut menjadi besar dan kokoh dan menjadi yang terbaik.

Hal tersebut merupakan hal yang lumrah akan tetapi alangkah ellegannya bila semua penataan dalam regulasi yang khusus dibuat guna mengatur semua aturan-aturan yang berlaku bagi semua OA yang ada sekarang tidak lebih dari hampir sekitar 20 OA yang baru dan lama yang masing-masing mempunyai aturan yang berbeda-beda hal ini yang saya nilai tidak ada nya kekompakan diantara OA yang satu dan yang lain.

Darwin menegaskan, Anggota juga harus di pikirkan dalam melakukan aktivitasnya, pembelaan atas nama pribadinya, pada lembaga nya yang belum maksimal. Banyak contoh-contoh kasus dalam praktek nya advokat di kriminalisasi, sementara advokat mempunyai hak imunitas. Hal ini yang kurang di cermati oleh OA mereka bernaung, ujarnya.

Dalam hal pembelaan yang tidak maksimal Dimata penegak hukum lain, maka perlu adanya suatu telaah yang mengedepankan kebersamaan dalam keberagaman di dalam kode etik bersama. Tentu bisa mengadopsi dari bahan sebelum nya revisi dalam etik tersebut harus di lakukan karna pergerakan  perkembangan zaman saat ini dan perkembangan advokat yang sekarang ini sangat siknifikan, penataan standarisasi materi PKPA di tentukan secara bersama jelas kurikulum nya.

Mengatur anggota tidak mempunyai kepemilikan KTA ganda hal ini perlu di kerucutkan dan diatur kembali akankah para elit pengurus OA berfikir tentang bagaimana nantinya organisasi profesi ini  bisa dipandang dan di segani oleh aparatur penegak hukum lain.

Kalau semua OA berjalan sendiri-sendiri tanpa memikirkan predikat profesi advokat yang hanya bisa melahirkan tapi juga tidak bisa membuat kesolidan diantara hub. OA yang satu dengan OA yang lainnya dengan adanya banyak perpecahan di kalangan OA itu sendiri apakah bisa dikatakan solid.

Oleh karna itu Darwin berharap, Organisasi Advokat (OA) hendaknya mengedepankan kebersamaan dalam perbedaan, bentuklah regulasi yang bertujuan untuk kemajuan bersama dan mengerucutkan dalam perhimpunan atau perkumpulan OA dalam suatu pola bersama dalam etik dan standarisasi bersama mengatur dalam regulasi khusus.

Nama OA nya bisa disesuaikan dengan kesepakatan bersama, mungkin bisa Dewan Advokat Nasional (DAN), Dewan Advokat Nasional Indonesia (DANI), Makamah Advokat Indonesia (MAI) dan atau yang lain nya dalam payung hukum yang bisa membuat nilai tawar Advokat di segani, tambahnya.

"Inilah bukti kekompakan dalam sebuah dinamika OA yang di tunggu-tunggu oleh para anggota Advokat di setiap keanggotaan OA dari mana saja mereka berasal, tentunya menginginkan kekompakan dalam pembentukan regulasi baru dalam cakupan yang telah saya kemukanya diatas tadi," tutup Andi Darwin Ranreng, Praktisi dan Konsultan Hukum. (Dimas)
Jl. Sunan Drajad No. 2B, Kel. Jati. Kec. Pulo Gadung
Kota Jakarta Timur. DKI Jakarta 13220
Telp. : 021 4786 3331
Mobile/HP : 0813.8438.7157 – 0856 9018 509
>