,
Jakarta, Suara Journalist KPK | Pengaduan dugaan tindak pidana  keterbukaan informasi publik yang dilakukan oleh Sekda selaku Atasan PPID...
Papua, SuaraJournalist-KPK | Menjelang 18 Tahun Otsus diberlakukan di Provinsi Papua, tidak efesien untuk mengatasi atau mengurangi berbagai...
Jakarta, Suara Journalist KPK - Sesuai prosedur sebelum dilakukan jual beli tanah PPAT menerangkan langkah - langkah dan persyaratan yang diperlukan...
BIAK koransuarajournalist-kpk.id  komunitas masyarakat adat papua anti korupsi kampak papua ketika diwawancarai pada hari senin tanggal 07...
Biak, Suara Journalist KPK Kasus korupsi yang sekarang sedang mencuat di Kabupaten Biak Numfor hingga kini belum bisa diselesaikan oleh penegak...
Suarajournalist-kpk.id-Jakarta-Maraknya prilaku corrupt di tataran pejabat pemerintah semakin hari semakin memprihatinkan. Seakan Slogan Revolusi...
24 Februari 2020 | Dibaca: 50 Kali
GELAR PRESSCONF KEPADA AWAK MEDIA MUCHTAR ARIFIN AND PARTNERS BERHARAP DAPAT BERDIALOG DENGAN DPR RI

Tim pengacara Benny Tjokrosaputro menggelar  press Confrence yang membelit kliennya. Acara tersebut diadakan di kafe paparons pizza  jakarta selatan pada Senin sore.

 

Benny Tjokrosaputro, klien kami saat ini berada dalam tahanan kejagung di Rutan KPK di kuningan ucap kuasa hukumnya Muchtar Arifin SH dalam konferensi pers.

​​Muchtar Arifin didampingi beberapa pengacara dari Kantor Pengacara Muchtar Arifin and Partners. Menjelaskan bahwa ”Surat yang  pertama adalah meminta agar semua perusahaan reksadana di periksa dan kedua meminta agar pemeriksaan KPK tidak dipercepat. Inginnya agar kebocoran di jiwasraya dapat diketahui secara menyeluruh,” ujar Muchtar Arifin.

 

Kuasa hukum Benny Tjokrosaputro ,”sangat mengapresiasi langkah-langkah dari Kejagung untuk melakukan penyidikan.”Kami juga gembira karena Bapak Presiden meminta agar kasus ini diselesaikan secara tuntas”.

 

Selama menjalani tahanan, klien kami sudah dua kali mengirim surat tertulis, yaitu setelah pemeriksaan BPK RI dan setelah pemeriksaan dari KPK”,ujar pengacara Senior Muchtar Arifin dalam konperensi pers yang diadakan di kawasan gerbang pemuda, Jakarta Selatan, hari ini.

Kami menduga ada kekuatan besar yg bergerak bersama-sama atau sendiri-sendiri untuk menutupi kasus ini dan mencari kambing hitam.Benny dijadikan tumbal, dijadikan kirban untuk menutupi kerugian jiwasraya.

Hal ini dikarenakan diantara tersangka, hanya klien kami yg punya asset banyak.Dari berita pagi ini, sudah ada 11 trilliun yang disita.
Dan diketahui, Benny Tcokrosaputro tersebut pernah berhubungan dengan jiwasraya untuk jual saham.

 

“Hal yang mengkhawatirkan kami, adalah apabila mengapa kasus ini ingin cepat diselesaikan dan dibatasi tahun editnya”, lanjut Muchtar Arifin. “Menteri BUMN melaporkan ke Kejagung melaporkan, tahun yang dilaporkan hanya 2 tahun. Apa munfkin men bumn tidak mengetahui hal itu. Kami berharap agar kejaksaan dapat proporsionsl dan tuntaskan kasus ini.

 

Makanya Benny Tjokrosaputro sebagai direktur utama PT. Hanson Internasional Tbk. perusahaan investasi reksadana agar diperiksa.
Benny minta kepada kuasa hukumnya agar dihadirkan di komisi 6 untuk membuka yang sebabnya.

Tersangka kasus tindak pidana korupsi PT Asuransi Jiwasraya, Benny Tjokrosaputro atau Benny Tjokro (Bentjok) kembali bersuara. Bentjok meminta Badan Pemeriksa Keuangan RI (BPK) dan Kejaksaan Agung (Kejagung), memeriksa pembelian saham secara langsung atau tidak langsung oleh Jiwasraya periode 2006-2016. Dia meyakini, pada periode tersebut sudah terjadi transaksi pembelian saham yang kelak merugikan pihak Jiwasraya.

Transaksi pembelian itu terjadi baik secara langsung oleh Jiwasraya maupun secara tidak langsung melalui sejumlah manajer investasi.

Kinerja Industri Asuransi Diyakini Tak Terpengaruh Jiwasraya Bentjok meminta, BPK jangan memaksakan audit bila belum tuntas memeriksa transaksi pembelian saham yang menjadi portofolio Jiwasraya periode 2006-2016.

 

Jl. Sunan Drajad No. 2B, Kel. Jati. Kec. Pulo Gadung
Kota Jakarta Timur. DKI Jakarta 13220
Telp. : 021 4786 3331
Mobile/HP : 0813.8438.7157 – 0856 9018 509
>