,
Papua, SuaraJournalist-KPK | Menjelang 18 Tahun Otsus diberlakukan di Provinsi Papua, tidak efesien untuk mengatasi atau mengurangi berbagai...
Jakarta, Suara Journalist KPK - Sesuai prosedur sebelum dilakukan jual beli tanah PPAT menerangkan langkah - langkah dan persyaratan yang diperlukan...
Jakarta, SuaraJournalist KPK | Visi, Misi, Program Nawacita Presiden  Joko Widodo dan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2015 Tentang...
Jakarta-Korupsi di Indonesia dewasa ini sudah merupakan patologi sosial (penyakit sosial) yang sangat berbahaya yang mengancam semua aspek kehidupan...
Jakarta, SuaraJournalist-KPK.ID | Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan bukti-bukti baru dalam kasus dugaan suap Dana Otonomi Khusus Aceh...
Jakarta, SuaraJournalist-KPK.ID | Calon Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),...
22 Mei 2018 | Dibaca: 411 Kali
Penanganan Akurat untuk Cedera Bahu & Kaki akibat Olahraga

Jakarta – Gaya hidup sehat, salah satunya dengan rutin berolahraga, semakin banyak diminati masyarakat urban saat ini. Hal ini tidak terlepas dari keinginan untuk menjaga kebugaran tubuh, seiring dengan meningkatnya  kesadaran masyarakat akan kesehatan. Meski terlihat umum dilakukan, berolahraga dapat menimbulkan risiko cedera, khususnya pada bahu, tangan, dan kaki, terlebih jika tidak dilakukan dengan benar. Cedera olahraga dapat terjadi pada siapa saja, termasuk pria, wanita, anak-anak, juga orang dewasa, baik atlet profesional ataupun orang awam (recreational athlete).

Peradangan otot maupun sendi akibat salah posisi, otot yang robek, ataupun dislokasi otot, tulang, dan sendi adalah beberapa jenis cedera yang umum terjadi saat berolahraga. Kesalahan posisi bagian tubuh saat berolahraga, bersinggungan dengan sesama pemain, teknik bermain yang kurang tepat dan penggunaan otot yang berlebihan dapat menimbulkan cedera pada tangan dan bahu. Beberapa jenis olahraga yang dapat memicu cedera tangan dan bahu adalah golf, tenis, badminton, dan voli. 

Dokter Iman Widya Aminata, Sp. OT, Dokter Spesialis Bedah Ortopedi yang berpraktik di RS Pondok Indah – Pondok Indah dan RS Pondok Indah – Bintaro Jaya mengatakan, “Penanganan cedera akibat olahraga yang tepat dan cepat sangat penting untuk meminimalkan risiko jangka panjang yang ditimbulkan. Untuk itu, perlu dilakukan berbagai upaya diagnosa, salah satunya dengan pemanfaatan teknologi medis modern seperti CT Scan atau MRI. Penegakan diagnosis perlu dilakukan untuk mengetahui lokasi serta mengidentifikasi cedera yang terjadi dengan lebih akurat sebagai tahapan awal untuk menentukan langkah penanganan yang tepat selanjutnya.”

Cedera bahu dapat terjadi baik pada tulang maupun otot, namun struktur tulang yang lebih keras menyebabkan cedera paling sering terjadi pada otot. Cedera bahu ringan dapat diatasi dengan melakukan peregangan dan memaksimalkan kerja bahu melalui fisioterapi, sedangkan cedera akibat peradangan otot dapat diatasi dengan istirahat, penggunaan kompres es untuk meredakan nyeri, pemberian analgesik, serta terapi untuk membantu proses pemulihan bahu.

Untuk cedera bahu dengan kondisi tertentu seperti robeknya otot atau dislokasi bahu, pasien memerlukan diagnosa dan penanganan yang lebih komprehensif. Diagnosa dengan teknologi seperti CT Scan dapat memberikan rekonstruksi tiga dimensi untuk memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai permasalahan yang dialami. Jika kondisinya sudah sangat serius, maka bisa jadi perlu dilakukan tindakan pembedahan. 

Masa pemulihan pasca operasi membutuhkan waktu hingga lima bulan yang meliputi masa proteksi, fase mobility untuk mengembalikan fleksibilitas bahu, fase untuk meningkatkan kekuatan bahu, dan yang terakhir adalah fase di mana pasien dapat kembali melakukan aktivitas olahraga seperti semula, dimulai dari latihan untuk non-contact sport, baru dilanjutkan dengan latihan untuk contact sport.

Tidak hanya tangan dan bahu, kaki juga rentan terhadap cedera olahraga, terutama bagi para pemain sepak bola dan basket. Cedera olahraga pada kaki dan pergelangan kaki yang umum terjadi di antaranya adalah robeknya ligamen pergelangan kaki, cedera tendon achilles, dislokasi tendon peroneal, dan keluhan nyeri yang berhubungan dengan kondisi flatfoot atau kaki datar. Sama halnya dengan cedera tangan dan bahu, penegakan diagnosis dengan memanfaatkan CT Scan, MRI, dan teknologi mutakhir lainnya juga diperlukan untuk memastikan jenis cedera dan tingkat keparahannya. 

Dokter Spesialis Bedah Ortopedi Konsultan Foot & Ankle, dr. Dimas R. Boedijono, Sp. OT (K), yang berpraktik di RS Pondok Indah – Bintaro Jaya menjelaskan, “Pemeriksaan MRI dan CT Scan  merupakan tindakan non-invasive untuk mengetahui kondisi ligamen pergelangan kaki pasien dan melihat apakah ada cedera lainnya yang tidak terlihat saat menggunakan modalitas radiologi konvensional seperti X-ray. Pencitraan yang lebih baik akan dapat membantu untuk menentukan apakah memerlukan tindakan pembedahan atau cukup dengan tindakan konservatif seperti fisioterapi.”

Pemeriksaan MRI dilakukan apabila dicurigai terjadi cedera pada sendi, otot, ligamen, ataupun tendon untuk mendapatkan pencitraan anatomi jaringan lunak dalam tubuh dengan lebih jelas. Pemeriksaan ini dapat memberikan informasi rinci dan membantu dokter dalam menilai kondisi yang berhubungan dengan gejala, kondisi, atau cedera tertentu. Sementara pemeriksaan CT Scan dilakukan apabila dicurigai adanya cedera pada tulang. Kemampuan CT Scan dalam mengambil gambar dari berbagai sudut, termasuk gambar kondisi patah tulang yang terjadi, membantu dokter untuk mendapatkan pencitraan dengan jelas sehingga penanganan dapat diberikan lebih cepat dan tepat.

Tindakan arthroscopy merupakan salah satu metode diagnosa dan penanganan minimal invasive untuk cedera serius pada bagian sendi bahu dan kaki. Tindakan ini dilakukan dengan membuat sayatan kecil untuk memasukkan kamera dan alat yang akan bekerja ke bagian persendian yang mengalami cedera. Dengan arthroscopy, pembedahan dapat dilakukan tanpa membuat sayatan besar dengan waktu pengerjaan dan waktu pemulihan pasien yang relatif lebih cepat.

Pada beberapa kondisi seperti adanya robekan ligamen yang membuat pergelangan kaki menjadi relatif tidak stabil dan tidak bisa melakukan gerakan tertentu yang melibatkan ketangkasan, penanganan dengan metode rekonstruksi primer dapat menjadi pilihan. Setelah dilakukan tindakan tersebut, maka diperlukan penanganan terpadu dengan bagian fisioterapi untuk mengembalikan fungsi sendi dan kebugaran pasien tersebut.

Chief Executive Officer RS Pondok Indah Group, dr. Yanwar Hadiyanto, MARS mengatakan, “Olahraga penting dilakukan sebagai salah satu cara menjaga kesehatan tubuh. Namun, jika tidak dilakukan dengan benar ataupun pemanasan yang memadai, olahraga bisa memiliki risiko cedera yang dapat menimbulkan efek jangka panjang jika tidak ditangani dengan segera dan tepat. RS Pondok Indah Group melalui Orthopaedic Centre di RS Pondok Indah – Bintaro Jaya memberikan layanan terpadu untuk menangani keluhan pada tangan, bahu, kaki, dan pergelangan kaki, termasuk akibat cedera olahraga. Selain menggunakan teknologi medis mutakhir untuk menegakkan diagnosa dan penanganan cedera, Orthopaedic Centre juga didukung oleh tenaga medis ahli yang meliputi dokter spesialis dan konsultan bedah ortopedi dari berbagai sub-spesialisasi. Ke depannya, kami berkomitmen untuk terus menghadirkan layanan kesehatan terdepan dengan tetap memprioritaskan kepentingan pasien, baik dari sisi tenaga medis, maupun teknologi kesehatan,” tutup dr. Yanwar.
Jl. Sunan Drajad No. 2B, Kel. Jati. Kec. Pulo Gadung
Kota Jakarta Timur. DKI Jakarta 13220
Telp. : 021 4786 3331
Mobile/HP : 0813.8438.7157 – 0856 9018 509
>