,
Jakarta, Suara Journalist KPK | Pengaduan dugaan tindak pidana  keterbukaan informasi publik yang dilakukan oleh Sekda selaku Atasan PPID...
Papua, SuaraJournalist-KPK | Menjelang 18 Tahun Otsus diberlakukan di Provinsi Papua, tidak efesien untuk mengatasi atau mengurangi berbagai...
Jakarta, Suara Journalist KPK - Sesuai prosedur sebelum dilakukan jual beli tanah PPAT menerangkan langkah - langkah dan persyaratan yang diperlukan...
Suarajournalist-kpk.id-Jakarta-Maraknya prilaku corrupt di tataran pejabat pemerintah semakin hari semakin memprihatinkan. Seakan Slogan Revolusi...
Sumenep, Suara Jurnalis KPK - KPK melakukan pengecekan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) 37 pejabat di Provinsi Jawa Timur. Para...
Membuanan di dunia aktifis, Johan rumkorem meminta masyarakat ikut berperan penting untuk megawal Pemerintah daerah dan DPRP serta DPRD di...
28 Desember 2018 | Dibaca: 310 Kali
Forum Nasional Jurnalis Indonesia (FNJI) mengadakan diskusi Publik dengan tema Evaluasi Akhir Tahun, Pemilu di Tengah Menguatnya Politik Identitas, Rakyat Untung Apa Untung?

Suarajournalist-kpk.id- Jakarta Mengakhiri tahun 2018 Forum Nasional Jurnalis Online (FNJI) mengadakan diskusi publik dengan tema evaluasi akhir tahun, pemilu di tengah menguatnya politik Identitas, Rakyat Untung Apa Untung? Tema ini diangkat menjadi isu utama karena kita ketahui bersama bahwa di tahun 2018 dan 2019 ini merupakan tahun politikus. Suhu politik semakin memanas menjelang pertengahan tahun 2019. 
Acara tersebut digelar di Hotel Cordela Kramat Raya Senen Jakarta Pusat pada Rabu (27/12/2018).

Hadir sebagai keynote speaker dalam acara ini adalah
Irjen Pol Dr. Gatot Eddy Pramono, MSI., selaku Kasatgas Nusantara Mabes Polri.  Acara ini dihadiri pula oleh insan Pers/wartawan yang berdomisili di wilayah Jabodetabek, wartawan FNJI serta aktivis ormas tertentu. 
Irjen Pol Dr. Gatot Eddy Pramono,Msi., mengatakan bahwa,"Isu-isu yang sensitif seperti Ras adalah suatu isu yang paling harus di waspadai dalam perkembangan informasi sekarang ini sebagai salah satu inflementasi dari pemilu yang akan kita hadapi di tahun 2019. Dimana masyarakat dihadapkan kepada situasi yang baru dengan masuk kedalam TPS dengan memilih surat suara yang berjumlah masing-masing 5 surat suara.
"Pemilu kita saat ini memilki potensi kerawanan. Pasalnya di dalam internal partai antara CALEG (Calon Legislatif) yang satu dengan CALEG yang lain juga ada kerawanan karena merebutkan suara pemilih agar memilih mereka agar bisa lolos menjadi anggota dewan, imbuh Gatot. 
Para caleg akan mencari pendukung suaranya sebanyak mungkin, banyak cara asal jangan pake berita hoax, politik identitas, money politik serta cara-cara lain yang keluar dari koridor. Pads akhirnya calon terpilih yang terbaiklah yang menjadi anggota yang terpilih dengan cara terbaik pula.

Analisa kerawanan PEMILU 2019 dimana Pileg dan Pilpres diselenggarakan secara bersamaan dengan parlementary threshold 4 % Parpol bersaing keras merebut suara dalam PILEG dan PILPRES.
Politik identitas/politisasi SARA, pemanfaatan isu-isu yang dapat memecah belah, black Campaign & Negative campaign, hoax, ujaran kebencian dan lain sebagainya.

"Maka kita harus bersinergi dengan seluruh elemen semisal dengan organisasi-organisasi masyarakat, kepemudaan dan juga kepada media konvesional juga media sosial yang ada maka terjalin kondisi yang kondusif dalam pemilu mendatang tahun 2019," harap Gatot. 

Bang Adnan selaku ketua umum FNJI dalam sambutannya mengatakan, " Adapun kegiatan ini diadakan dimana masyarakat resah akan negara kita , yang akhir-akhir ini saling mencela/ menjelekkan , ini juga terjadi politik Identitas mengalami radikalisme/ penguatan, apalagi ada berita hoax dan adanya berita yang diterima masyarakat tanpa filter lagi. 
Makanya disini kita bersama- sama untuk berdiskusi agar berita Yang disampaikan Ke masyarakat harus berdasarkan fakta/ nyata dan tidak hoax. 

Irjen Polisi Dr. Gatot Eddy Pramono, MSi dalam juga memaparkan, bahwa sudah saatnya para awak media 
datang Ke Kantor polisi baik itu POLDA 
, POLRES dan POLSEK yang ada di 34 provinsi di Indonesia berhasil dengan bagian HUMAS dan berkerja-sama untuk menangkal berita hoax maupun ujaran kebencian. 

Berita harus mulai mengangkat menguatnya Politik identitas. Sejak tahun 1908 kita, negara kita berdiri 
dengan kesepakatan, dan seiring dengan waktu negara kita menjalani perubahan-perubahan.
Perubahan Yang dibuat lambat laun akan terlihat. 
Dahulu Pemilu kita dilaksanakan secara tidak langsung dan sekarang telah menjadi langsung. Saat ini saya mau mengajak para awak media agar tidak menyebarkan berita hoax dan membuat ujar kebencian. 
Misalnya menerbitkan issue SARA. Sebelum negara kita berdiri , para pendiri bangsa sejak tahun 1908 Sudah bersepakat di bidang sosial, ekonomi , budaya, politik untuk bersama sama membuat NKRI menjadi negara yang kuat. 
Nilai nilai kebangsaan / kebersamaan terus dipertahankan hingga tahun 1928 (dikenal dengan Sumpah Pemuda). 
Tahun 2050 dan di prediksi ahli ekonomi bahwa Indonesia termasuk negara ke-4 terkuat ekonominya setelah negara
Cina, Amerika, dan India. 
Indonesia saat ini tercatat  memiliki 
715 suku bangsa di Indonesia , dimana 117 juta penduduk Indonesia memakai alat HP digital/ dan menggunakan internet ini dapat menimbulkan berita- berita Yang hoax.
Kita harus menempatkan 
Media sebagai Pilar Ke - 4, Media harus, menciptakan cooling system bersama TNI/ Polri .Karena kita mempunyai visi untuk menjaga negara kesatuan Republik Indonesia. Indonesia jangan sampai terpecah-belah. 
Indonesia adalah rumah keberagaman. Media jangan menjadi kompor, sudah seharusnya insan media menjadi lokomotif dalam hal cooling sistem imbuhnya.
 
Jl. Sunan Drajad No. 2B, Kel. Jati. Kec. Pulo Gadung
Kota Jakarta Timur. DKI Jakarta 13220
Telp. : 021 4786 3331
Mobile/HP : 0813.8438.7157 – 0856 9018 509
>