,
Sungguh tragis Rekayasa Laporan keuangan yang terjadi pada BUMN dan  perusahaan terbuka (Tbk) yang listed dibursa saham seperti pada  PT....
Menjadi tanggung jawab Direksi, menyajikan laporan keuangan yang sesuai prinsip dan standar akuntansi yang diterima umum, merupakan kewajiban yang...
Aksi demonstrasi Jaringan Mahasiswa Hukum Indonesia (JMHI) di kantor pusat Bank Rakyat indonesia dan gedung Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) pada 15...
Jakarta, Suara Journalist KPK. Dugaan publik terhadap Rekayasa Laporan Keuangan BPD-NTT Tahun Buku 2020 yang disampaikan ketua umum LSM IIK Drs....
Ketua Umum Nasional Komunitas Masyarakat Adat Papua Anti Korupsi "LSM.KAMPAK Papua" Dorus Wakum angkar bicara soal kejahatan terstruktur,...
Sekjen LSM Kampak Papua, Johan rumkorem  kepada awak Media,  meminta Kapolri  Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo  segera...
20 November 2022 | Dibaca: 48 Kali
Pendekar Indonesia Gelar Diskusi Dengan Tema Dibutuhkan Presiden Yang Peduli Pertahanan Negara

Beberapa tahun belakangan ini, Geopolitik menjadi tren dalam kancah perpolitikan nasional maupun mancanegara. Suatu negara membutuhkan Geopolitik guna menentukan pembinaan politik nasional, Hal ini didasarkan kondisi dan situasi geografis dalam mencapai tujuan negara tersebut. Indonesia sebagai negara kepulauan, mempunyai geopolitik tersendiri, yaitu Wawasan Nusantara. 

Tujuan wawasan nusantara sebagai Geopolitik Indonesia secara umum tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Dalam UUD 1945, dijelaskan bahwa tujuan kemerdekaan Indonesia ialah 'Untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Terkait hal tersebut pendekar Indonesia, center for Society and Culture (ICSC) berkerjasama dengan Komunitas Milenial Peduli Indonesia (Kompii) menggelar diskusi publik dengan tema dibutuhkan presiden yang peduli pertahanan negara. Acara yang digelar pada hari Minggu (20/11/2022) menghadirkan pembicara Dr Hendrawan Saragi (peneliti ekonomi dan pengembangan wilayah), Dr. Connie Rahakundini Bakrie (pakar pertahanan) dan dimoderatori oleh Yohanes de Britto Nanto, SVD. 

Di awal diskusi Dr. Hendrawan Saragi menjelaskan bahwa salah satu isu yang terus berlanjut dan membara di negara kita saat ini adalah bagaimana kita memandang diri kita sendiri dan bagaimana kita memandang orang lain, termasuk dalam masalah ras dan biologis tertentu ujarnya. 

Menurut Hendrawan masalahnya adalah bagaimana orang memandang satu sama lain dan makna yang mereka berikan pada perbedaan fisik atau biologis di antara mereka. Mungkin salah satu cara untuk mendekati ini adalah dalam konteks apa yang membuat sekelompok orang memandang diri mereka sebagai bagian dari kewarganegaraan atau komunitas bersama sebagai "bangsa". 

Jadi kualitas yang menentukan dari orang-orang yang berasal dari bangsa yang sama adalah keinginan untuk memiliki masa depan bersama dan juga masa kini Bersama, ingin memiliki masa depan sosial, politik, dan budaya yang sama.  Dengan siapa ia merasa “terikat” karena kesamaan sejarah, nilai, kepercayaan, adat istiadat, dan tradisi ungkapnya.

Apa hubungannya semua ini dengan isu dan ketegangan rasial di Indonesia saat ini? Tentunya Ini memiliki relevansi karena sampai pada pertanyaan krusial, "Apakah orang Indonesia itu? Apa karakteristik yang menentukan dari orang seperti itu? Ketika seseorang menjadi WNI, mereka mengucapkan sumpah setia yang sebagian berbunyi: Demi Allah/demi Tuhan Yang Maha Esa, saya bersumpah melepaskan seluruh kesetiaan saya kepada kekuasaan asing, mengakui, tunduk, dan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan akan membelanya dengan sungguh-sungguh serta akan menjalankan kewajiban yang dibebankan negara kepada saya sebagai Warga Negara Indonesia dengan tulus dan ikhlas.

Perhatikan bahwa ketika secara resmi menjadi orang Indonesia tidak ada persyaratan bahwa mesti memiliki latar belakang ras atau etnis tertentu, bahasa tertentu, menganut agama tertentu, namun yang penting adalah bersumpah setia untuk Konstitusi Indonesia jelas Hendrawan.

Jadi, ada tantangan lain lagi yakni Indonesia dihadapkan dengan perubahan drastis dalam lanskap internasional, terutama upaya eksternal untuk memeras, dan memberikan tekanan pada negara kita. Dapat dikatakan bahwa kebijakan luar negeri terus mencari musuh baru ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan ketika sebuah konflik selesai, pemerintah negara-negara memiliki kemampuan luar biasa untuk dengan cepat terjun ke dalam peperangan dengan yang baru. Jadi "Kita harus mengutamakan kepentingan nasional, mempertahankan tekad strategis internal yang kuat" ajaknya.

Jadi sudah semestinya kita juga bisa menjaga keseimbangan kekuatan pertahanan melawan kekuatan jahat dimana-mana - di Eropa dan Asia dan Afrika, di Atlantik dan Pasifik, baik di darat, udara dan laut tandasnya.

Dr. Connie Rahakundini Bakrie menjelaskan bahwa pertahanan Negara adalah segala usaha untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman serta gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.

Pemerintah Negara Indonesia diamanatkan mewujudkan tujuan nasional yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Ini adalah waktu untuk melihat dan mendapatkan beberapa perspektif tentang posisi kita sebagai sebuah bangsa terangnya Connie. 

Jadi menurutnya perang merupakan musuh terbesar kebebasan, dan musuh kemajuan ekonomi yang mematikan. Sejarah mengajarkan bahwa negara yang sering berperang akhirnya kehilangan karakternya sebagai negara bebas. Oleh karena itu, perang harus dilakukan hanya untuk mempertahankan bangsa kita dari serangan orang jahat.

Menurutnya Pemimpin Tegas dan Cerdas adalah pemimpin yang Paham Geopolitik
Indonesia dapat memunculkan koalisi penyeimbang yang tidak memihak poros manapun.

Permainan hegemonik negara-negara adikuasa mesti dihadapi dengan prinsip nonalignment. Hal ini sebenarnya telah dilakukan oleh Presiden Soekarno dengan Gerakan Non Blok, To build The World a New. Pembuat kebijakan harus keluar dari kelengkungan waktu geopolitik abad ke 20 dan menyadari bahwa hubungan internasional telah berubah secara drastis ujarnya.

Jadi tidak ada lagi momen unipolar di mana AS hanya bisa memaksakan kepentingannya. Pemerintah harus menolak dorongan intervensionis dan mengekang perluasan militer negara-negara adikuasa. 

Ini adalah posisi Soekarno dan orang-orang lain yang memimpin kelahiran negara kita Itu bisa disebut non-intervensi dan memberikan alternatif dalam To Build The World a New. 

Ini adalah sebuah peradaban yang khas dan potensi warisan pendiri negara kita Dalam praktiknya, kata-kata itu berarti tidak ada capur tangan dalam kontroversi dan perang dan penolakan terhadap intrusi kekuatan, sistem, dan ambisi negara mana saja terangnya.

Jadi, Implikasi penting dari prinsip ini adalah bahwa, meskipun kami menghormati perjuangan untuk kemerdekaan negara lain namun kami tidak akan menjadi agresor menyebarkan cita-cita kami ke seluruh dunia dengan kekuatan senjata.

Negara Indonesia yang tidak memihak ini menjadi keajaiban dunia karena memecahkan masalahnya sendiri dan mengembangkan peradabannya sendiri. Ini menunjukkan kepada bangsa lain jalan menuju kebesaran dan kebahagiaan ujarnya.

Saat ini merupakan giliran kita untuk memindai calon presiden 2024-2029 yang akan memikul tanggung jawab kepemimpinan geopolitik untuk menjaga perdamaian dunia, untuk menyelamatkan peradaban, dan melayani umat manusia.

Menurutnya hanya calon presiden yang berpengetahuan luas/cerdas dengan tulang punggung yang keras/ tegas dapat mengakhiri ketegangan geopolitik di negara kita. 

Mari merebut kembali 'medan yang hilang' dari masa kejayaan pendiri bangsa Presiden Soekarno, rasa cinta kebebasan politik yang dipenuhi hasrat rela mati untuk itu. Kiranya ada pemimpin yang muncul dengan ketegasannya, kecerdasannya, sehingga pantas memperjuangkannya ajaknya. 

Acara ditutup dengan diskusi tanya jawab 
salah satu peserta dalam diskusi bertanya mengenai nuklir Indonesia, dan Dr. Connie menjawab bahwa saat ini Indonesia memiliki tiga reaktor riset yang hingga kini tetap beroperasi dengan baik, yakni Reaktor TRIGA 2000 di Bandung, Reaktor Kartini di Yogyakarta, dan Reaktor GA. Siwabessy di Serpong.

Semua reaktor tersebut digunakan untuk keperluan penelitian dan bertujuan damai. Di Indonesia sendiri bahan baku nuklir uranium dan thorium cukup melimpah. 

Selain itu ada juga peserta diskusi yang bertanya terkait pertahanan Indonesia apa yang perlu dibangun, dan bagaimana cara membangunnya serta angkatan mana dahulu yang lebih di perkuat lagi?Dr. Hendrawan Saragi menjawab bahwa Indonesia harus bisa Berdikari. 

Kita harus terus melakukan pengembangan dan inovasi semua angkatan harus diperkuat namun karena Indonesia negara maritim yang terdiri dari banyak pulau maka menurutnya kekuatan angkatan laut kita juga harus ditingkatkan pungkasnya. 
 
Jl. Sunan Drajad No. 2B, Kel. Jati. Kec. Pulo Gadung
Kota Jakarta Timur. DKI Jakarta 13220
Telp. : 021 4786 3331
Mobile/HP : 0813.8438.7157 – 0856 9018 509
>