,
Jakarta, Suara Journalist KPK | Pengaduan dugaan tindak pidana  keterbukaan informasi publik yang dilakukan oleh Sekda selaku Atasan PPID...
Papua, SuaraJournalist-KPK | Menjelang 18 Tahun Otsus diberlakukan di Provinsi Papua, tidak efesien untuk mengatasi atau mengurangi berbagai...
Jakarta, Suara Journalist KPK - Sesuai prosedur sebelum dilakukan jual beli tanah PPAT menerangkan langkah - langkah dan persyaratan yang diperlukan...
Membuanan di dunia aktifis, Johan rumkorem meminta masyarakat ikut berperan penting untuk megawal Pemerintah daerah dan DPRP serta DPRD di...
Jakarta - Tiga hari lagi, tepatnya tanggal 1 1/4/ 2019 adalah 2 tahun Novel Banwedan aktivis anti korupsi yang juga penyidik senior KPK mencari...
  Jakarta Suara Journalist KPK. Tiga mantan pejabat PT Sinar Mas Group dieksekusi Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ke Lapas Klas I...
24 Januari 2019 | Dibaca: 435 Kali
Rayakan Ulang Tahun Pertama, LIP gelar Diskusi Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Indonesia

Jakarta - Sebagai bagian dari perayaan ulang tahunnya, Yayasan Lingkar Internasional Perempuan (LIP) pada Rabu, 23 Januari 2019, menyelenggarakan sebuah diskusi yang bertajuk "Women Economic Empowerment, Does it Prevent on Cause Domestic Violence?". Diskusi yang diselenggarakan di @america, Pacific Place Mall, ini berlangsung meriah dengan dihadiri oleh ratusan peserta, yang diantaranya hadir dari anggota LIP, Kepolisian, Duta Besar, dan Mahasiswa.

Sebuah laporan nasional yang tiap tahunnya dikeluarkan oleh Komnas Perempuan menunjukkan bahwa ada kenaikan sebesar 74% dalam kasus kekerasan perempuan yang dilaporkan kepada Komnas Perempuan dalam kurun waktu tahun 2016-2017.Di 2017, dari 348.446 kasus dilaporkan, kasus terbesar adalah kekerasan. Sebuah survey yang dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) dan Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2016, menyebut bahwa dari 9000 sampel yang berasal dari 24 provinsi di Indonesia, terdapat 1 dari 3 (33,4%) perempuan berusia 15-64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual oleh pasangan maupun bukan pasangan mereka. 

Perempuan yang berasal dari rumah tangga kalangan ekonomi kebawah lebih rentan mengalami kekerasan yang dilakukan oleh pasangannya. Kekerasan perempuan menunjukkan tren menurun di negara dimana ekonomi, sosial, dan hak politik lebih dilindungi, dan dimana kekuatan dan sumber daya lebih didistribusikan secara seimbang antara perempuan dan laki-laki. Semua ini harus dikendalikan oleh seluruh pemangku kepentingan dalam jalan yang baik. Dibalik impak positif dan negatif yang akan terjadi, jalan terbaik untuk mengakhiri kekerasan perempuan adalah dengan mencegahnya sebelum terjadi sejak awal.

Yulie Nasution Grillon, Ketua Umum LIP, menjelaskan, harus ada kerjasama dari semua pihak, yaitu NGO, Organisasi, Swasta, Media, Akademisi, dan Pemerintah, untuk mendukung program-program pencegahan kekerasan terhadap perempuan."Sebagai sebuah organisasi yang fokus dalam pengembangan pemberdayaan ekonomi perempuan, LIP tersanjung bisa menjadi bagian dari kegiatan penting guna mencegah terjadinya kekerasan perempuan dengan menyuarakan kemandirian perempuan dalam pemberdayaan ekonomi. Kami percaya untuk menyelesaikan isu ini tidak hanya tugas dari Pemerintah, tapi juga tugas kita sebagai perempuan untuk menghilangkan kekerasan perempuan," jelas Yulie.

"LIP adalah rekan bagi perempuan Indonesia  dalam mengembangkan industri kreatif. Kami berharap di masa depan kita dapat membangun sebuah sinergi dengan Pemerintah dan sektor swasta untuk mempromosikan industri kreatif perempuan Indonesia, baik di dalam maupun luar negeri," tambah Yulie.

Prof. Dr. Yohana Susana Yambise, Dip. Apling, M.A., Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, menyebut, di luar negeri isu kesetaraan gender sudah menjadi isu hangat. "Di dalam statuta SDG's yang dikeluarkan PBB sudah tidak ada lagi perbedaan yang dialami wanita. Laki-laki dan perempuan sudah setara dalam statuta tersebut. Saya yakin di dalam negeri pun akan seperti itu. Saya yakin wanita Indonesia adalah wanita hebat, wanita yang akan terus bangkit. Untuk itulah, pemberdayaan ekonomi kreatif saya yakin akan menjadi salah satu jalan keluar dari kekerasan perempuan. Jika perlu, di masa depan, mari kita dirikan partai khusus perempuan agar perempuan Indonesia bisa semakin didengar suaranya," sebut Yohana.
 
Brigjen. Pol. Dr. Dra. Juansih, S.H., M.Hum., Primary Policy Analyst, Education and Training Institution, Indonesian National Police, mengatakan, di tahun 2017 ada penurunan laporan yang diterima pihak kepolisian. "Saya melihat ada tren menurun dalam laporan kekerasan yang dialami oleh perempuan. Namun, meskipun menurun, ini hanya laporan yang diterima kepolisian. Masih ada perempuan yang tidak berani melaporkan kekerasan yang dialaminya karena takut dan malu. Untuk itulah kami dari kepolisian selalu melakukan pembianaan, tidak hanya kepada perempuan, tapi juga kepada laki-laki. Kami berharap di masa depan kasus kekerasan perempuan akan terus menurun," ungkap Juansih.

Senada dengan Juansih, Khariroh Ali, S.Th., M.A, Komisioner Komnas Perempauan, menegaskan, di tahun 2017 sebenarnya angka kekerasan perempuan jumlahnya bertambah. "Ada 348. 466 kasus yang dilaporkan kepada Komnas Perempuan, naik lebih dari 100.000 kasus dibandingkan tahun 2016. Ini mengkhawatirkan. Yang lebih mirisnya, kekerasan tidak hanya dialami oleh perempuan dalam rumah tangga, namun juga perempuan muda yang belum memiliki ikatan pernikahan. Meskipun sudah ada UU No. 23 Tahun 2004, tampaknya belum memberikan efek jera bagi pelaku," tegas Khariroh.
 
Sebenarnya, salah satu penyebab dari maraknya kekerasan perempuan berasal dari perempuan itu sendiri. Dr. Elza Syarief, S.H., M.H., Co-founder of LIP, menyebut dirinya beberapa kali menemui kasus kekerasan perempuan dimana perempuannya merasa tidak tega pasangannya dihukum. "Saya beberapa kali menemui kasus, ketika sampai di tahap persidangan, perempuan yang mengalami kekerasan justru mengasihani pasangannya yang telah tega melakukan kekerasan. Perempuan-perempuan ini memohon agar pasangannya tidak dihukum dan memaafkan perilaku pasangannya. Ini adalah celah yang sering dimanfaatkan oleh pelaku kekerasan perempuan. Untuk itulah LIP ini didirikan. Kami ingin membantu perempuan Indonesia dari semua sisi, termasuk pemberdayaan ekonomi, agar perempuan Indonesia memiliki kemandirian dan tidak hanya tergantung dari pasangannya," jelas Elza.
Jl. Sunan Drajad No. 2B, Kel. Jati. Kec. Pulo Gadung
Kota Jakarta Timur. DKI Jakarta 13220
Telp. : 021 4786 3331
Mobile/HP : 0813.8438.7157 – 0856 9018 509
>