,
Sungguh tragis Rekayasa Laporan keuangan yang terjadi pada BUMN dan  perusahaan terbuka (Tbk) yang listed dibursa saham seperti pada  PT....
Menjadi tanggung jawab Direksi, menyajikan laporan keuangan yang sesuai prinsip dan standar akuntansi yang diterima umum, merupakan kewajiban yang...
Aksi demonstrasi Jaringan Mahasiswa Hukum Indonesia (JMHI) di kantor pusat Bank Rakyat indonesia dan gedung Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) pada 15...
Jakarta, Suara Journalist KPK. Dugaan publik terhadap Rekayasa Laporan Keuangan BPD-NTT Tahun Buku 2020 yang disampaikan ketua umum LSM IIK Drs....
Ketua Umum Nasional Komunitas Masyarakat Adat Papua Anti Korupsi "LSM.KAMPAK Papua" Dorus Wakum angkar bicara soal kejahatan terstruktur,...
Sekjen LSM Kampak Papua, Johan rumkorem  kepada awak Media,  meminta Kapolri  Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo  segera...
06 November 2022 | Dibaca: 83 Kali
Kritik Atas Manifesto Politik 2022 Saragi Ajak Anak Bangsa berikhtiar mempercantik Indahnya kehidupan berbangsa di Indonesia Lewat Akal Sehat

Tahun 2022 sampai tahun 2024 acapkali disebut sebagai tahun politik, anggapan itu terkait perhelatan Pemilu 2024. Bagi negeri seperti Indonesia yang jumlah politisinya demikian banyak, sejatinya setiap waktu adalah tahun politik, tidak ada hari tanpa keramaian politik. 

Terkait hal itu Indonesia Center for Society and Culture (ICSC) berkerjasama dengan Komunitas Milenial Peduli Indonesia (Kompii), Pendekar Indonesia dan Indodian. com menggelar diskusi dengan tema "kritik atas manifesto politik 2022 mempercantik keindahan Indonesia dengan akal Sehat" pada hari Minggu (6/11/2022) melalui aplikasi zoom. 

Hadir sebagai pembicara dalam acara pada acara tersebut Dr. Hendrawan Saragi (peneliti ekonomi dan pengembangan wilayah) dan Prof. Franz Magnis-Suseno (penulis buku etika politik). 

Pakar filsafat politik Prof. Franz Magnis-Suseno mengatakan Indonesia acap kali menghadapi beberapa tantangan serius berupa paham radikalisme agama yang berimplikasi kepada intoleran, selain itu tantangan lainnya adalah oligarki dan korupsi. 

Untuk meminimalisir atau menghilangkan hal tersebut setiap komponen bangsa wajib memiliki komitmen lima hal, yaitu “Komitmen pada bangsa, pada demokrasi, pada hak-hak asasi manusia, pada kemerdekaan beragama dan berkepercayaan, dan pada keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia,” terang Magnis-Suseno.

Pernyataan tersebut merupakan respon dari terhadap buku Manifesto Politik (Manipol) 2022 yang ditulis oleh aktivis muda Dr. Hendrawan Saragi dengan judul "Mempercantik Keindahan Indonesia dengan Akal Sehat.” 

Masih menurut Magnis-Suseno, Manipol tersebut perlu respon dan ditindaklanjuti dengan sikap “nir-toleransi terhadap korupsi, nir-toleransi terhadap intoleransi beragama, dan berhenti merusak lingkungan hidup.” Isi Manipol itu sendiri merupakan edisi revisi dari Manipol yang ditulis Saragi pada tanggal 30 Oktober 2022. 

Dalam Manipol yang telah direvisi bertanggal 1 November 2022, Hendrawan Saragi menyampaikan lima pernyataan yaitu (1) Keindahan dan akal sehat (2) Akal sehat sebagai alat menilai hal baik dan buruk (3) Menekan praktik korupsi oknum aparatur negara (4) Menghentikan polarisasi masyarakat (5) Mengajak mempercantik keindahan berbangsa.

Pada Manipol-nya Saragi menerangkan, “Kami menyimpulkan bahwa pengalaman berbangsa dicirikan oleh tiga kemampuan yang terintegrasi, yaitu pengenalan akan kebenaran, keadilan, dan keindahan. Hal inilah yang bisa membangun akal sehat. 

Pada hakikatnya manusia dapat membedakan mana yang benar dan yang salah, serta dapat membedakan yang adil dari yang tidak adil. Oleh karenanya akal sehat merupakan suatu alat menilai hal baik dan buruk dalam hal-hal praktis berbangsa.”

Menurutnya akal sehat merupakan kombinasi dari kebijaksanaan dan kehati-hatian. "Kebijaksanaan adalah mengetahui apa yang harus dilakukan dan kehati-hatian adalah mengetahui kapandan di mana harus melakukannya,” ungkapnya.

Karena ketiadaan akal sehat merupakan masalah besar dalam kehidupan berbangsa. “Melalui akal sehat itu kita diajak melihat permasalahan bangsa secara jernih,”terang Saragi dalam pernyataannya.

Dengan dasar akal sehat itu Saragi mengusulkan kepada pihak berwenang suatu cara meminimalisasi praktik korupsi aparatur negara secara sederhana tetapi efektif.

“Caranya bukan dengan melipatgandakan tenaga penegakan hukum terhadap tindak korupsi, tapi dengan mengurangi secara radikal kebijakan dan hukum tertentu yang melumpuhkan, yang membuat korupsi dimungkinkan" ungkapnya.

Sejatinya tindakan setengah jalan tidaklah mungkin berhasil karena akan mempertahankan insentif untuk berdagang di pasar gelap,” ucap pria yang juga menjabat sebagai Ketua relawan Pendekar Indonesia.

Saragi meyakini dengan cara tersebut tidak hanya korupsi yang dapat ditekan, tetapi juga aparat negara kemudian akan bebas beroperasi melawan kejahatan yang sebenarnya.

Usulan itu diharapkan dapat meningkatkan
nama baik terhadap penegakan hukum dan aturan. Saragi berharap kedepan kita bisa menghentikan Polarisasi Masyarakat.

Ia juga mengatakan, politik identitas dan rasisme sistemik merupakan ancaman yang sangat berbahaya bagi ideologi berbangsa.  “Kehadiran fenomena sosial politik yang mempopulerkan sebutan tak pantas seperti ‘cebong’ dan ‘kadrun’ menimbulkan tantangan berbangsa saat ini,” kata pria yang juga berkecimpung di dunia penelitian ekonomi dan pengembangan wilayah itu. 

Hal tersebut dapat berdampak pada tidak adanya minat kerja sama sosial, enggan untuk hidup bersama, sehingga terpisah dari konsepsi sejarah tentang apa artinyaberbangsa Indonesia.

Untuk itu ketua Pendekar Indonesia mengajak masyarakat memikirkan kembali jati diri individu masing-masing dan menolak dimanipulasi oleh pihak tertentu. “Masyarakat perlu menghindari rasa benci dan balas dendam". Untuk itu kita harus merangkul keindahan yang dibangun dari perdamaian dan keinginan akan kesejahteraan,” ucapnya.

Untuk itu ia mengajak mari bersama-sama kita mulai sekarang berhenti melabeli pihak yang berbeda pandangan politik dari kita dengan sebutan ‘kadrun’ atau ‘cebong’ dan mulai belajar berpolitik tanpa harus terjebak dalam polarisasi,” ujar Saragi.

Seyogyanya kampanye politik kedepan mengedepankan dan mengajarkan kepada generasi muda tentang bagaimana berpolitik secara santun beradab dan indah. “Program yang kampanye solid tidak sekadar menciptakan antusiasme para pendukungnya, tapi juga jangan sampai merendahkan dan mempermalukan lawannya,” ujarnya.

Dengan begitu, politik bisa menjadi faktor terdepan dalam mengajak segenap rakyat Indonesia mempercantik keindahan hidup berbangsa dan bernegara. 

Tanpa polarisasi Indonesia akan menjadi lebih indah. Saragi mengaku terinspirasi mempercantik keindahan hidup berbangsa dari filsafat Nusantara "memayu hayuning bawana" yang berarti "mempercantik keindahan dunia." Tujuan filsafat ini adalah meraih kehidupan yang tertata dan tenteram.

Maka, dalam manipol 2022 Saragi
mengundang semua anak bangsa untuk berikhtiar mempercantik indahnya kehidupan berbangsa di Indonesia. “Ke depan keindahan berbangsa dapat dicapai juga dengan adanya pemimpin nasional yang tegas, cerdas, dan pantas.

Meskipun tidak ada formula ajaib untuk menjadikan Indonesia ‘Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat,’ tetapi kita akan terus menyuarakan apa yang menurut kami dapat membantu bangsa ini meraih cita-cita itu ungkap pria yang namanya dikenal setelah mendeklarasikan permohonan dan dukungan kepada Jenderal Andika Perkasa untuk maju sebagai calon Presiden republik Indonesia 2024-2029 itu.

"Manifesto Politik ini adalah harapan tulus, dan saya mengajak Anda, mari kita mempercantik keindahan Indonesia dengan akal sehat,” pungkasnya.
Jl. Sunan Drajad No. 2B, Kel. Jati. Kec. Pulo Gadung
Kota Jakarta Timur. DKI Jakarta 13220
Telp. : 021 4786 3331
Mobile/HP : 0813.8438.7157 – 0856 9018 509
>