20 Juli 2026 | Dibaca: 1838 Kali
HKTI Dan BRMP Satukan Sembilan Organisasi Tani, Bangun Jaringan Pertanian Indonesia Untuk Percepatan Swasembada Pangan

Jakarta, 19 Juli 2026 – Upaya memperkuat kolaborasi antarorganisasi petani nasional memasuki babak baru. Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) bersama Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menginisiasi pembentukan Jaringan Pertanian Indonesia melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang dirangkaikan dengan Kopdar Tani Bareng MasDar pada puncak Sarasehan Jaringan Petani bertema "Bersinergi, Berkolaborasi, Berdaya untuk Petani Indonesia Maju dan Berdaulat" di Jakarta, Minggu (19/7).
Penandatanganan MoU tersebut menjadi tonggak konsolidasi gerakan petani nasional. Sebanyak sembilan organisasi pertanian sepakat membangun sinergi dalam satu wadah kolaborasi untuk memperkuat posisi petani sekaligus mendukung percepatan program swasembada dan kedaulatan pangan yang menjadi prioritas Pemerintah Presiden Prabowo Subianto.
Ketua Panitia Sarasehan sekaligus perwakilan HKTI, Ir. H. Muhammad Yadi Sofyan Noor, S.H., mengatakan bahwa penyatuan berbagai organisasi tani merupakan langkah strategis agar seluruh elemen pertanian dapat bergerak bersama dalam satu visi membangun sektor pertanian Indonesia.
Adapun organisasi yang bergabung dalam konsolidasi tersebut diwakili oleh Budi (Ketua FK P4S), Haji Otong (Ketua P3SI), Fery Saifullah (Ketua IKAMAJA), Sarendra Sajad (Ketua OLENG), Prof. Andi Muhammad Syakir (Ketua PERAGI), serta perwakilan Sugenta, KIARA, dan KTNA.
Kesepakatan tersebut tidak berhenti pada penandatanganan MoU. Sebagai tindak lanjut, Jaringan Pertanian Indonesia akan menggelar Safari Kopdar Tani di 38 provinsi sebagai forum konsolidasi sekaligus ruang dialog untuk menyerap aspirasi petani secara langsung. Sumatera Utara menjadi provinsi pertama yang akan menjadi lokasi pelaksanaan agenda tersebut.
Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum HKTI, Dr. H. Sudaryono, B.Eng., M.M., MBA, atau yang akrab disapa MasDar. Dalam kesempatan itu, MasDar membuka ruang dialog dengan para petani dari berbagai daerah guna mendengarkan persoalan yang dihadapi di lapangan sekaligus merumuskan langkah penyelesaiannya.
Sementara itu, Ketua PERAGI Prof. Andi Muhammad Syakir menilai saat ini merupakan momentum terbaik bagi kebangkitan sektor pertanian nasional.
"Kita semua hadir di sini sebagai bentuk komitmen dan kepedulian untuk membangkitkan Republik Indonesia berbasis pertanian. Selama puluhan tahun Indonesia merdeka, baru kali ini pertanian ditempatkan sebagai program strategis nasional dengan prioritas tertinggi," ujarnya.
Menurut Syakir, kebijakan Presiden Prabowo Subianto menjadikan pertanian sebagai program strategis nasional merupakan langkah yang tepat karena sesuai dengan potensi besar Indonesia sebagai negara agraris.
"Belum pernah ada Presiden yang menempatkan pertanian sebagai program strategis dalam skala sebesar ini. Padahal, keunggulan komparatif Indonesia memang berada pada sektor pertanian," katanya.
Sebagai tindak lanjut hasil sarasehan, MasDar mencanangkan pelaksanaan Safari Jaringan Pertanian Indonesia ke seluruh 38 provinsi. Agenda tersebut ditujukan untuk memastikan setiap persoalan yang dihadapi petani dapat dipetakan secara langsung dan ditindaklanjuti melalui solusi konkret bersama pemerintah dan organisasi petani.
Percepatan program strategis tersebut didukung oleh sinergi kepemimpinan yang dikenal sebagai "Trio Penyerang Pertanian Republik Indonesia", yakni Presiden Prabowo Subianto sebagai Ketua Dewan Pembina DPN HKTI, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebagai Ketua Penasihat DPN HKTI, serta Dr. H. Sudaryono (MasDar) sebagai Ketua Umum DPN HKTI sekaligus Wakil Menteri Pertanian.
Kolaborasi ketiga pemimpin tersebut diharapkan mampu memperkuat ekosistem pertanian nasional, mempercepat pelaksanaan program pemerintah di lapangan, serta mewujudkan cita-cita besar Indonesia menuju swasembada pangan yang berkelanjutan.
Melalui pembentukan Jaringan Pertanian Indonesia, HKTI bersama BRMP dan berbagai organisasi tani berharap terbangun gerakan nasional yang mampu menyatukan kekuatan petani dari seluruh Indonesia, memperkuat koordinasi lintas organisasi, serta menghadirkan sektor pertanian yang semakin maju, modern, dan berdaulat.