05 November 2026 | Dibaca: 45 Kali
SENADA 2026 Satukan Tokoh Lintas Iman dan Kris Dayanti, Perjuangkan Kesetaraan bagi Penyandang Disabilitas

Jakarta – Upaya memperjuangkan kesetaraan dan membuka kesempatan yang lebih luas bagi penyandang disabilitas terus didorong melalui kolaborasi berbagai elemen masyarakat. Salah satunya diwujudkan melalui SENADA 2026 – Together in Unity, Music Beyond Limits, sebuah gerakan musik inklusif yang digagas Lembaga Daya Dharma Keuskupan Agung Jakarta (LDD-KAJ) dengan melibatkan tokoh lintas iman, komunitas disabilitas, insan seni, serta berbagai sektor lainnya.
Mengusung semangat kebersamaan dan inklusivitas, SENADA 2026 tidak sekadar menghadirkan pertunjukan musik, tetapi juga menjadi wadah untuk membuka akses berkarya, mengembangkan kreativitas, serta memperluas peluang ekonomi bagi penyandang disabilitas, khususnya melalui industri seni dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Gerakan ini mendapat dukungan dari sejumlah tokoh dan figur publik, termasuk Diva Indonesia Kris Dayanti, yang bergabung sebagai Special Collaborator SENADA 2026 bersama Samuel Dharmawan dan Margareth Siagian.
SENADA 2026 dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 15 November 2026, pukul 15.00–17.00 WIB, bertempat di Ruang Teater Batek, Balai Kartini, Jakarta.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, konferensi pers SENADA 2026 digelar pada Kamis (5/11/2026) di Graha Pemuda Keuskupan Agung Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan Kardinal Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta, Rama Adrianus Suyadi, SJ, perwakilan komunitas disabilitas, serta Kris Dayanti.
Kolaborasi tersebut juga melibatkan Eco Bhinneka Muhammadiyah dalam kepanitiaan sebagai wujud semangat kerja sama lintas iman dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan kesetaraan.
Pertemuan berbagai tokoh dengan latar belakang berbeda ini menegaskan bahwa pemberdayaan penyandang disabilitas bukan hanya menjadi tanggung jawab satu agama, lembaga, atau kelompok tertentu, melainkan merupakan kepedulian bersama.
Melalui SENADA, perbedaan keyakinan dan latar belakang justru menjadi kekuatan untuk membangun solidaritas, memperluas kolaborasi, serta menciptakan lingkungan yang lebih terbuka dan memberikan kesempatan setara bagi setiap individu.
Bukan Sekadar Panggung, tetapi Membuka Peluang Ekonomi
Rama Adrianus Suyadi, SJ, menjelaskan bahwa SENADA tidak dimaknai hanya sebagai sebuah konser musik, tetapi juga sebagai upaya menghadirkan ruang produktif bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan potensi, kreativitas, dan kemandirian ekonomi.
“Melalui SENADA, kami ingin membuka pintu yang lebih luas bagi teman-teman penyandang disabilitas untuk mengembangkan potensi, kreativitas, dan kemandirian ekonomi. Kami ingin seni tidak hanya menjadi ruang berekspresi, tetapi juga menjadi ruang produktif yang dapat membuka peluang usaha, menciptakan kesempatan berkarya, dan memberikan nilai ekonomi bagi para pelakunya,” ujar Rama Adrianus Suyadi, SJ.
Ia menambahkan, hal serupa juga ingin diwujudkan melalui sektor UMKM agar karya dan produk yang dihasilkan penyandang disabilitas memperoleh ruang, akses, serta kesempatan untuk berkembang.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui sejumlah kegiatan, antara lain penampilan band disabilitas, paduan suara penyandang disabilitas, serta bazar UMKM. Rangkaian acara ini dirancang untuk mempertemukan talenta dan produk karya penyandang disabilitas dengan masyarakat, calon konsumen, mitra bisnis, serta berbagai pihak yang berpotensi menjalin kerja sama.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya diajak menikmati pertunjukan musik, tetapi juga berpartisipasi secara nyata dengan mengapresiasi karya, membeli produk, dan membuka peluang kolaborasi bagi pelaku usaha disabilitas.
Musik Menjadi Bahasa Persatuan Lintas Iman
Di tengah keberagaman masyarakat Indonesia, SENADA mengangkat musik sebagai bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai perbedaan. Melalui gerakan ini, penyelenggara ingin menyampaikan pesan bahwa inklusivitas dan penghormatan terhadap hak penyandang disabilitas merupakan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan.
“Disabilitas bukan milik satu agama atau kelompok tertentu. Ini adalah isu kemanusiaan yang menjadi tanggung jawab kita bersama. SENADA ingin menunjukkan bahwa keberagaman bukan penghalang untuk bersatu. Justru melalui perbedaan, kita dapat membangun solidaritas, menghadirkan kesempatan yang setara, dan menciptakan masyarakat yang lebih inklusif,” tambah Rama.
Semangat Together in Unity menjadi landasan untuk mengajak komunitas agama, lembaga sosial, dunia usaha, seniman, dan masyarakat luas mengambil bagian dalam membangun lingkungan yang menghargai martabat, kemampuan, serta hak setiap individu.
Dukungan Kris Dayanti, Samuel Dharmawan, dan Margareth Siagian sebagai Special Collaborator juga diharapkan dapat memperluas perhatian publik terhadap potensi talenta penyandang disabilitas. Keterlibatan para figur tersebut sekaligus menjadi dorongan bagi dunia seni dan industri musik untuk semakin membuka ruang kolaborasi yang inklusif.
SENADA ingin menegaskan bahwa penyandang disabilitas bukan hanya berhak menikmati karya seni, tetapi juga memiliki kemampuan dan kesempatan untuk menjadi pencipta, penampil, serta bagian aktif dalam perkembangan industri seni dan ekonomi kreatif.
Mendorong Gerakan Inklusif Berkelanjutan
Bagi LDD-KAJ, SENADA diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan satu hari. Lebih dari itu, gerakan ini diharapkan berkembang menjadi inisiatif berkelanjutan dalam membangun ekosistem seni dan ekonomi kreatif yang memberikan akses lebih luas bagi penyandang disabilitas.
Keberhasilan inklusivitas tidak semata-mata diukur dari banyaknya penyandang disabilitas yang memperoleh kesempatan tampil di atas panggung, tetapi juga dari terbukanya akses untuk berkarya, bekerja, berusaha, membangun jejaring, dan menentukan masa depan secara mandiri.
Melalui SENADA 2026, masyarakat diajak untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut mengambil bagian dalam perubahan dengan mendengarkan aspirasi, mengapresiasi karya, mendukung produk, serta memberikan kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas.
Dengan semangat Together in Unity, Music Beyond Limits, SENADA membawa pesan bahwa setiap orang memiliki potensi, setiap karya memiliki nilai, dan setiap individu berhak mendapatkan kesempatan yang sama.
Tentang SENADA 2026
SENADA 2026 merupakan gerakan musik inklusif yang diinisiasi oleh Lembaga Daya Dharma Keuskupan Agung Jakarta (LDD-KAJ). Mengusung tema Together in Unity – Music Beyond Limits, kegiatan ini bertujuan menghadirkan ruang ekspresi, apresiasi, kolaborasi, serta pemberdayaan penyandang disabilitas melalui seni dan ekonomi kreatif.
Tentang LDD-KAJ
Lembaga Daya Dharma Keuskupan Agung Jakarta (LDD-KAJ) merupakan lembaga sosial kemanusiaan di bawah Keuskupan Agung Jakarta yang menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat, pendidikan, advokasi dan perlindungan, serta pengurangan risiko bencana. LDD-KAJ berkomitmen mendorong terwujudnya kehidupan masyarakat yang lebih bermartabat, inklusif, dan berkeadilan.