28 April 2026 | Dibaca: 22 Kali
Persaudaraan Masyarakat Iran Indonesia Resmi Di Deklarasikan

Jakarta — Persaudaraan Masyarakat Iran-Indonesia resmi dideklarasikan di Islamic Culture Center (ICC) Jakarta, Selasa (28/4/2026). Forum ini dibentuk sebagai ruang silaturahmi masyarakat sipil untuk memperkuat hubungan sosial, budaya, dan keislaman antara Indonesia dan Iran, tanpa membawa kepentingan pemerintah.
Deklarasi tersebut ditandai dengan penyerahan piagam kepada Direktur ICC yang diwakili oleh Kepala Departemen Tabligh dan Budaya ICC, Muhammad Zaki Amami. Kehadiran tokoh dari berbagai daerah mempertegas komitmen forum ini untuk menjadi simpul persaudaraan berskala nasional.
Ketua Umum Persaudaraan Masyarakat Iran-Indonesia, KH Abu Hasan atau Abuya Hasan, menegaskan bahwa forum ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Ia berharap deklarasi tersebut dapat melahirkan kerja nyata yang memberikan dampak jangka panjang.
“Semoga ke depannya ada sebuah pembangunan, khususnya di Kabupaten Bondowoso, yaitu Masjid Raya Iran-Indonesia,” ujar Abuya Hasan dalam sambutannya.
Gagasan tersebut mendapat sambutan positif dari para peserta. Menurutnya, persaudaraan harus diwujudkan dalam bentuk kontribusi nyata, bukan hanya berhenti pada dokumentasi acara.
Ketua panitia, Jalaluddin Tapau Jahidin, menjelaskan bahwa inisiatif pembentukan forum ini lahir setelah komunikasi langsung dengan pihak Kedutaan Besar Iran di Jakarta. Ia menyebut Wakil Duta Besar Iran menyambut baik terbentuknya organisasi tersebut.
“Ini bukan government, tetapi murni dari masyarakat, tidak mewakili pemerintah. Kita ingin membentuk Persaudaraan Masyarakat Iran-Indonesia,” kata Jalaluddin.
Ia menambahkan, penggunaan istilah “masyarakat” dipilih untuk menegaskan semangat musyawarah, kebersamaan, dan persaudaraan, bukan agenda politik praktis.
Sementara itu, Muhammad Zaki Amami menjelaskan bahwa ICC merupakan lembaga kebudayaan Islam di bawah naungan Republik Islam Iran yang membuka ruang kerja sama luas dengan masyarakat Indonesia.
Menurutnya, ICC berperan sebagai pusat penghubung budaya Islam dan hubungan sosial di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Singapura, hingga Brunei.
“Di sini adalah lembaga yang open-minded. Kita memiliki tujuan dan visi bersama sebagaimana Islam yang merupakan agama yang rahmatan lil alamin,” ujar Zaki.
Zaki, yang menempuh pendidikan di Iran melalui beasiswa penuh sejak 2011 hingga 2022, menilai hubungan Indonesia dan Iran memiliki akar sejarah panjang, terutama melalui pengaruh Persia dalam perkembangan Islam di Nusantara.
Ia menyebut jejak tersebut masih terasa dari Sumatera hingga Aceh. Meski tidak selalu ramai diperbincangkan, pengaruh Persia tetap hidup dalam budaya dan ingatan masyarakat.
Melalui deklarasi ini, Persaudaraan Masyarakat Iran-Indonesia diharapkan menjadi ruang baru bagi dialog budaya, penguatan ukhuwah, serta kerja sama masyarakat kedua negara di masa mendatang.